Sunflowers – Makeup Artist For The Dead Was An Accidental Profession… // Viddsee.com


Hei, bisa pelan-pelan tidak? Memangnya aku terbuat dari plastik? Maaf. Jangan lupa acara besar
pekan depan. Ini bayaranmu. Terima kasih, sampai nanti. Pinky. Aku mau tanya… Apa aku terlibat di acara besar itu? Maaf, Pinky… Acara itu hanya untuk
para perias yang sudah senior. Kalau nanti ada acara lain,
tolong kabari aku secepatnya. Kau tahu, tempat tinggalku jauh. Baiklah. Nanti aku kabari kalau ada lagi. Ini untukmu. Terima kasih. Nenek. Ping. Nenek sudah merasa baikan? Dokter bilang apa? Dokter bilang… Nenek sudah lebih baik. Mereka akan memulangkan Nenek
pekan depan. Nenek tidak sabar ingin melanjutkan
kursus Tai Chi. Hei.. Bagaimana kabar pekerjaanmu? Yah, seperti biasa… Belum ada jadwal pasti. Jadi aku belum tahu
kapan aku akan bekerja lagi. Wah, Nek… Bunga matahari ini dari siapa? Dari teman-teman Tai Chi Nenek. Ping… Jangan terlalu khawatir
dengan pekerjaanmu. Suatu hari nanti, kau pasti terkenal… Dan artis-artis akan memintamu
untuk merias mereka. Nek, mau minum?Wow. Yang benar saja. Hai, saya sudah di sini. Hei. Sebelah sini. Sini. Duduklah. Hai, ini portofolio saya. Wah, kelihatannya mahal sekali. Produk itu pasti membutuhkan
banyak biaya. Saya lama menabung
untuk membelinya. Karena saya berambisi menjadi
perias terkenal. Sepertinya bagus untuk menjadi
modal awal. Di dalam kotak ini… Halo. Oke. Aku akan segera ke sana. Ping, kan? Ayo. Hah? Ayo mulai bekerja. Sekarang? Ya! Ikut saya. Bos? Oh, saya lupa. Maaf. Saya bahkan belum bertanya
tentang gaji. Dua ratus per orang. Per orang? Kira-kira ada tiga orang
setiap pekannya… Di bulan-bulan seperti ini. Apa tidak terlalu banyak? Benar sekali! Ayo segera ke sana. Kita sudah sampai. Ayo masuk. Ping, ayo. Ayo. Ini Sam Poh. Ia yang mengurus
perlengkapan pemakaman… Persiapan peti mati… Persiapan pendeta… Hei. Yang ini kenapa? Ia bunuh diri. Lelaki tampan ini namanya Ah Lek. Alex! Ia bertugas untuk
mendekorasi pemakaman. Kau tahu kan,
ada begitu banyak pola. Ada Tao, Buddha, juga Kristen. Nah, ayo masuk. Ayo masuk, Ping. Saya bertanggung jawab
mengurus mayat. Saya memandikannya… Mengganti pakaiannya… Meriasnya… Dan membalsamnya. Kau akan menjadi asisten saya. Saya tidak tahu
kalau kau belum mengerti… Bahwa perias yang saya cari
adalah perias mayat. Bos tidak menyebutkannya
di iklan. Saya menyuruh Alex
untuk membuat iklannya. Saya tidak begitu tahu
apa yang ia tulis di sana. Bos… Bukankah saya sudah menunjukkan
portofolio saya? Memangnya saya terlihat
seperti orang… Yang bekerja mengurusi orang mati? Maaf. Sebenarnya, merias mayat
tidak seburuk yang kau bayangkan. Ini kejadian yang khusus. Sam Poh bilang, orang itu
bunuh diri… Jadi saya kira,
ia menyilet lengannya… Atau menelan beberapa pil. Saya tidak menyangka
kalau ia lompat dari gedung. Cukup. Jangan dibahas lagi. Saya bisa pergi sekarang? Ambil saja. Ini hakmu. Jadi saya bisa pergi sekarang? Nona… Terima kasih sudah membuat putriku
sangat cantik. Saya berterima kasih
sedalam-dalamnya. Pikirkan lagi, ya? Halo. Hei, ada yang baru datang. Hah? Saya akan menjemputmu. Bapak tahu alamat saya
dari mana? Dari portofoliomu. Siap-siap, ya? Saya datang! Kau pasti putra tertua. Saya mau tanya… Kau mau upacara tiga hari
atau lima hari? Biarkan anak yang mewarisi harta
yang memutuskan. Bu, kami mohon izin. Santai saja. Kami akan menyeka tubuh Ibu… Agar menjadi bersih dan indah. Kami akan memakaikan Ibu
pakaian favorit Ibu… Sehingga Ibu akan terlihat sempurna
dalam perjalanan. Kau tidak apa-apa? Biar saya yang melakukannya. Kau cukup mengamati
dan mempelajarinya. Terkadang, pasien kanker
meninggal dalam kesakitan. Tubuh mereka menjadi kaku. Sebenarnya tidak banyak perbedaan… Antara merias mayat dengan
merias yang biasa kau lakukan. Yang penting… Rona di pipi harus terlihat jelas. Selesai. Ping? Tolong panggil keluarganya ke sini. Jadi kau si putra pertama. Riasan untuk ibumu sudah selesai. Tolong dilihat
apa sudah sempurna. Sekarang saatnya mengucapkan
kata-kata terakhir untuk ibumu. Saya akan membalsamnya setelah itu. Jadi mungkin nanti
agak tidak enak dilihat. Lebih baik mengucapkan
selamat tinggal sekarang. Oh, ngomong-ngomong… Apa ayahmu masih ada? Kalau begitu… Kancingi baju ibumu
selagi kau bicara dengannya. Doakan semoga
perjalanannya lancar. Ingatkan padanya untuk mencari ayahmu
ketika sampai di sana. Bu… Semoga perjalanan Ibu lancar. Ketika Ibu sampai di sana… Jangan lupa mencari Ayah. Sekarang, bilang ibumu… Jangan ada rasa khawatir
dan penyesalan yang tertinggal. Bilang kalau kau… Akan menjaga keluarga ini
sebaik-baiknya… Dan menjaga adik-adikmu. Bilang pada ibumu
untuk beristirahat dengan tenang. Bu… Istirahatlah dengan tenang. Aku akan menjaga keluarga ini. Hati-hati, jangan meneteskan air mata
ke tubuhnya. Nanti perjalanannya
akan menjadi sulit. Aku akan menjaga keluarga ini. Aku akan menjaga
adik-adikku. Jadi semoga
perjalananmu lancar ya, Bu. Sebenarnya… Apa memang seperti itu? Yang Bos bilang tadi di sana? Ada begitu banyak hal
yang tidak pernah kita tahu. Tapi… Jika kau bersumpah pada orang
yang sudah meninggal… Di titik terendahmu… Sumpah itu akan ada
di dalam dirimu selamanya. Bagaimana tadi? Tidak terlalu buruk, kan? Jadi kau akan menerima
panggilanku mulai sekarang? Sebenarnya… Saya tidak keberatan membantu. Tapi… Karena saya belum ada
pekerjaan yang jelas di kota… Saya akan mengambil kesempatan ini
sebagai pekerjaan sementara. Ping. Kalau memang begitu, lain kali
kau tidak usah membawa kotak rias. Sekali kau pakai… Kau tidak bisa mundur. Bos. Apa kita harus memakaikan lipstik
untuk pria? Tentu. Tapi jangan terlalu merah. Dulu ada keluarga
yang pernah protes… Karena Ayah mereka
terlihat seperti banci. Harga peti mati itu 15.000. Semahal itu? Benar sekali. Seperti membeli mobil
untuk perjalanan terakhirmu. Kalau misalnya ini Proton… Maka yang di sana itu Ferrari. Korban perampokan lagi. Akhir-akhir ini seringkali terjadi,
padahal ini daerah pedesaan. Saya sudah lama
bergelut di bisnis ini… Tapi dulu tidak pernah menemui
kasus seperti ini. Kita harus makin waspada… Ketika kita berada di luar. Hai Alex! Ia beruntung
wajahnya tidak terbakar. Kita masih bisa meriasnya. Maaf. Dah. Nenek. Paman, Bibi. Ping, kau di sini! Ayo sapa sepupumu. Halo Ping. Anak baik. Kita sudah lama
tidak ketemu, ya. Kau sekarang punya pacar? Ah, Paman! Tentu saja belum. Tidak usah buru-buru. Bagaimana kabarmu
sebagai penata rias? Kau sudah pernah
merias artis belum? Aku belum bisa berharap
untuk kesempatan seperti itu… Tapi aku sibuk akhir-akhir ini. Aku merias beberapa model… Untuk pemotretan majalah. Bagus kalau begitu. Kami harus mengantarkan
sepupumu ke sekolah. Ada sekolah Minggu di Johor sekarang. Sampai jumpa. Ping. Kau bilang kau sibuk
akhir-akhir ini? Ya. Nek… Ada yang harus aku katakan
pada Nenek. Sebenarnya… Aku memang sibuk, tapi… Aku tidak merias model. Aku tidak tahu
bagaimana mengatakannya… Aku sebenarnya… Merias mayat. Kenapa susah sekali
mengatakannya? Itu kan pekerjaan yang baik. Jadi kau sudah melihat
banyak orang meninggal? Ya! Aku awalnya takut sekali! Aku kira Nenek akan marah. Aku sungguh tidak tahu
harus bilang apa. Kenapa Nenek harus marah? Hidup itu indah… Tapi kita semua
pasti akan berakhir. Lihat? Bahkan bunga matahari pun layu. Begitu pula manusia. Selama kau
menjadi orang yang baik… Dan tidak berbuat jahat… Tidak ada yang perlu ditakutkan. Siapa tahu, ketika nanti
saatnya giliran Nenek… Kau bisa membuat Nenek
menjadi sangat cantik. Jangan bilang begitu! Nenek pasti berumur panjang! Lagipula ini hanya
pekerjaan sementara. Nenek tahu kan, aku bercita-cita… Nenek tahu. Kau ingin keliling dunia. Taiwan, Hong Kong… Untuk merias orang-orang terkenal… Dan punya pacar artis. Nenek! Itu kan cuma khayalanku. Dan cuma Nenek yang tahu! Ayo makan. Ia adalah pria yang bahagia
dan memiliki dua istri. Saya cuma punya satu istri… Tapi saya tidak bisa
menanganinya! Bos. Kenapa Bos tidak menikah? Ada banyak hal yang tidak dimengerti
oleh anak-anak muda. Biar saya yang menjelaskan. Bos tidak punya keberanian. Bos tidak berani melamar wanita
yang dicintainya… Dan berakhir seperti ini. Memangnya kau berani? Kenapa kau tidak mengajaknya jalan? Mana keberanianmu? Saya pergi dulu. Saatnya menambah dupa. Sam Poh. Nyalakan ini untuknya. Bos. Siapa wanita yang dibicarakan Alex? Bagaimana ceritanya? Tidak usah membicarakan
masa lalu. Ada beberapa hal
yang tidak saya mengerti. Mungkin memang tidak ada
yang suka pada saya. Mungkin karena pekerjaan yang
saya lakukan… Perempuan pada kabur. Halo. Acara besar itu? Sebagai pengganti? Tentu! Terima kasih banyak,
kau yang terbaik! Dah. Bos. Boleh kan? Tidak masalah. Tapi kau harus berdoa
dan mensucikan diri dulu. Itu kan kabar yang bagus sekali! Kau akhirnya mendapat pekerjaan. Semoga ada acara setiap pekannya. Jangan terlalu bersemangat dulu. Selesaikan upacara ini dulu. Aku akan mengambil uang arwah dulu. Sebentar. Aku akan segera kembali. Sebentar ya. Sepertinya harus kau yang melakukannya. Kau siap? Saya turut berduka cita. Jangan sampai air matamu
menetes ke tubuhnya. Baiklah. Ayo mulai. Pakai punya saya saja. Nenek… Jangan khawatir… Aku akan menjaga diri dengan baik. Kalau Nenek sudah sampai… Jangan lupa… Titip salam untuk Kakek. Kalau… Kalau Nenek melihat Ayah dan Ibu… Bilang pada mereka… Aku baik-baik saja. Satu lagi… Aku akan menyiapkan pakaian sederhana
untuk Nenek… Jadi… Nenek bisa berlatih Tai Chi
bersama teman-teman di sana. Wow. Kau masih ingat kalau aku
suka bunga matahari. Ada beberapa hal
yang tidak bisa dilupakan. Apa kabar? Kau sudah merasa baikan? Tidak terlalu. Aku sudah tua. Dokter bilang, tubuhku tidak mampu
untuk menjalani operasi lagi Setidaknya aku tidak kesakitan. Kau sudah mengabari keluargamu
tentang kondisimu? Belum. Kalau memang saatnya pergi,
maka harus pergi. Tidak perlu membuat mereka khawatir. Sama saja seperti membuat mereka
menunggu kepergianku. Bukankah itu yang selalu kau bilang? Tidak ada yang pernah siap
untuk menghadapi hal seperti ini? Bagaimana kabar cucumu? Ia masih mengejar impiannya. Tapi… Sepertinya tidak mudah. Terkadang ia menganggur hingga sebulan. Dan ketika ia mendapat pekerjaan… Ia harus pergi ke kota. Hei. Kenapa kita tidak… Yang benar saja! Ini kan sungguh berbeda. Aku tahu ini memang berbeda. Hei. Aku serius, tahu. Minta dia untuk bekerja denganmu. Ia tidak akan pernah setuju. Pekerjaan ini bukan untuk semua orang. Kau harus punya keberanian… Ketekunan… Dan kebesaran hati untuk
menjalankan tugas ini. Aku kenal siapa cucuku… Aku yakin ia bisa melakukannya. Ayo cepat Bos, kita harus pergi! Kenapa buru-buru? Orangnya tidak akan ke mana-mana! Siapa orang yang akan kita urus? Ia seorang pemilik pabrik sepeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *